Laut Sulawesi, 21 Juli 2025 — Hari Minggu yang tenang berubah menjadi mimpi buruk bagi ratusan penumpang KM Barcelona 5. Kapal feri rute Melonguane–Manado ini mendadak terbakar saat masih berada di tengah laut, menyisakan kepanikan massal dan perjuangan hidup yang tak terlupakan. Kapal yang tengah mengangkut ratusan jiwa itu dilaporkan terbakar sekitar pukul 10.00 WITA. Api berkobar cepat, menelan sebagian besar dek kapal bagian atas. Asap hitam pekat mengepul tinggi, terlihat dari kejauhan oleh kapal nelayan dan warga pesisir.
“Kami tidak tahu harus bagaimana. Anak-anak menjerit, orang-orang loncat ke laut dengan pelampung seadanya,” ungkap Rian, salah satu penumpang yang berhasil selamat.
Dalam insiden dramatis tersebut, 568 orang berhasil dievakuasi, berkat koordinasi cepat dari tim SAR, TNI AL, serta nelayan setempat. Sayangnya, tiga korban jiwa ditemukan tak bernyawa, termasuk seorang ibu hamil yang diduga tidak sempat menyelamatkan diri. Dua korban lainnya sempat dikabarkan meninggal, termasuk bayi berusia 2 bulan, namun kemudian dinyatakan masih hidup dan dalam penanganan medis intensif.
Kelebihan Kapasitas dan Pengawasan Minim, Masih Terulang
Tragedi ini membuka kembali luka lama soal manajemen pelayaran di Indonesia. Meski belum dirilis data pasti soal manifest penumpang, laporan awal menunjukkan potensi kelebihan kapasitas, sebuah masalah klasik yang terus berulang di musim ramai penumpang.
“Ini bukan pertama kalinya kapal terbakar. Tapi mengapa pengawasan tidak juga diperketat?” keluh seorang aktivis keselamatan pelayaran di Sulawesi Utara.
Apa Penyebabnya? Investigasi Masih Berjalan
Hingga kini, penyebab pasti kebakaran belum diumumkan. Dugaan sementara mengarah pada korsleting listrik di ruang mesin, namun tim KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) masih melakukan penyelidikan. Bagian kapal yang terbakar sudah didinginkan, dan sisa bangkai kapal ditarik ke pelabuhan terdekat untuk dianalisis.