Perekonomian dunia memasuki 2026 dengan bayang-bayang proteksionisme yang kembali menguat. Banyak negara mulai memperketat kebijakan impor, memberikan subsidi besar pada industri domestik, serta membatasi ketergantungan terhadap pasar luar negeri.
Langkah ini didorong oleh kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global dan fluktuasi pasar yang belum stabil. Pemerintah memilih melindungi ekonomi dalam negeri sebagai langkah defensif, meski berisiko memicu ketegangan dagang.
Ekonom menilai kebijakan ini dapat memberikan dampak jangka pendek yang positif, namun berpotensi merugikan dalam jangka panjang. Rantai pasok global yang terganggu dapat menaikkan harga barang dan menekan daya beli masyarakat.
Jika tren ini berlanjut tanpa koordinasi internasional, dunia berisiko menghadapi fragmentasi ekonomi yang lebih dalam.
