Jakarta — Nilai tukar rupiah mengalami gejolak terhadap dolar AS pagi ini, dipicu oleh rilis data inflasi global yang lebih tinggi dari perkiraan. Bank Indonesia (BI) merespons dengan pernyataan kesiapan untuk menyesuaikan kebijakan moneter jika tekanan inflasi dunia mulai berdampak pada harga barang impor di dalam negeri. Para pelaku pasar mencatat bahwa sentimen global masih sangat mempengaruhi pergerakan mata uang emerging market seperti rupiah, sehingga volatilitas yang tajam bukan hal yang mengejutkan.
Data terbaru menunjukkan beberapa tekanan pada sektor energi dan bahan baku, yang membuat importir harus rela menanggung biaya lebih tinggi. Hal ini kemudian berdampak pada pelemahan rupiah terhadap sejumlah mata uang utama. Di sisi lain, BI menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid, dengan cadangan devisa yang berada pada level memadai dan pertumbuhan kredit yang stabil. Para ekonom memperkirakan bahwa apabila tren ini berlanjut, BI kemungkinan akan mempertimbangkan langkah kebijakan tambahan seperti intervensi pasar atau penyesuaian suku bunga.
Investor domestik dan asing pun kini memperhatikan lebih erat pertemuan komite kebijakan moneter BI yang akan datang, karena keputusan di pertemuan tersebut berpotensi memberikan arah baru bagi pergerakan finansial dalam beberapa bulan ke depan.

