Gelombang protes besar kembali menyelimuti Amerika Serikat. Ribuan warga dari berbagai latar belakang memadati jalanan kota-kota utama sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan imigrasi yang dinilai semakin keras dan represif. Aksi ini tidak terjadi di satu wilayah saja, melainkan menyebar luas dari pesisir barat hingga timur, menandakan meningkatnya ketegangan antara pemerintah dan masyarakat sipil.
Aksi protes dipicu oleh insiden penegakan hukum imigrasi yang berujung pada korban jiwa. Peristiwa tersebut memantik kemarahan publik, terutama kelompok pembela hak asasi manusia dan komunitas imigran. Mereka menilai pendekatan aparat terlalu agresif dan tidak mengedepankan prinsip kemanusiaan.
Dalam aksi tersebut, massa membawa poster bertuliskan tuntutan keadilan, penghentian operasi imigrasi yang dinilai sewenang-wenang, serta seruan reformasi kebijakan. Tidak hanya pekerja dan aktivis, para pelajar juga ikut ambil bagian dengan melakukan aksi walkout dari sekolah sebagai bentuk solidaritas. Beberapa kota bahkan mengalami lumpuh aktivitas sementara akibat pemogokan massal yang disengaja.
Di sisi lain, pemerintah federal menyatakan bahwa kebijakan imigrasi diterapkan demi menjaga keamanan nasional dan penegakan hukum. Namun, pernyataan ini justru memperlebar jurang perdebatan. Banyak pihak menilai alasan tersebut tidak sebanding dengan dampak sosial yang ditimbulkan, terutama bagi keluarga imigran yang hidup dalam ketakutan.
Pengamat politik melihat protes ini sebagai sinyal kuat meningkatnya tekanan publik menjelang agenda politik nasional berikutnya. Isu imigrasi kembali menjadi topik panas yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan dan peta dukungan politik di Amerika Serikat.
Hingga kini, aksi unjuk rasa masih terus berlangsung secara sporadis. Publik menanti apakah pemerintah akan merespons dengan dialog terbuka atau tetap bertahan pada kebijakan yang menuai penolakan luas tersebut.

