India menjalani hari yang kontras. Di satu sisi, ruang parlemen dipenuhi perdebatan politik dan agenda kenegaraan. Di sisi lain, wilayah Kashmir kembali diingatkan pada kerentanannya oleh getaran bumi yang datang tanpa peringatan.
Pada hari ini, Presidensi Parlemen India memulai pembahasan terhadap pidato kenegaraan yang menjadi penanda arah kebijakan nasional ke depan. Forum ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang penting bagi anggota parlemen untuk menanggapi prioritas pemerintah, mulai dari ekonomi, keamanan, hingga stabilitas sosial. Diskusi diperkirakan berlangsung dinamis, mengingat situasi domestik dan regional India yang sedang menghadapi berbagai tantangan.
Sementara itu, ratusan kilometer dari gedung parlemen, gempa bumi berkekuatan 4,6 magnitudo dilaporkan mengguncang wilayah Kashmir. Getaran dirasakan oleh warga di beberapa kawasan, memicu kepanikan singkat dan membuat sebagian masyarakat keluar dari rumah sebagai langkah antisipasi. Hingga laporan awal diterima, belum ada informasi resmi mengenai korban jiwa atau kerusakan besar, namun otoritas setempat tetap melakukan pemantauan lanjutan.
Kashmir memang dikenal sebagai wilayah yang rawan aktivitas seismik. Gempa dengan kekuatan menengah kerap terjadi dan menjadi pengingat akan risiko alam yang terus mengintai kawasan pegunungan tersebut. Pemerintah daerah diminta siaga, terutama terhadap kemungkinan gempa susulan meskipun peluangnya relatif kecil.
Peristiwa hari ini memperlihatkan dua wajah India sekaligus: negara besar yang tengah merumuskan kebijakan strategis di pusat kekuasaan, dan wilayah-wilayahnya yang tetap harus berhadapan dengan realitas alam. Di tengah dinamika politik nasional, keselamatan warga tetap menjadi perhatian utama yang tidak bisa dikesampingkan.

