22 Juli 2025 – Pagi ini, Jakarta bangun dalam keheningan yang berat. Bukan karena kabar duka, tapi karena setiap helaan nafas terasa seperti menelan debu tak kasatmata. Tak ada sirine. Tak ada berita darurat. Tapi kita semua tahu: kita sedang menghirup bahaya.
Indeks Kualitas Udara (AQI) Jakarta mencapai angka 159, menjadikannya kota dengan udara terburuk kedua di dunia hari ini. Di atas kertas, angkanya terlihat teknis. Tapi di jalan-jalan ibu kota, ini berarti sesak napas, anak-anak batuk terus-menerus, dan orang tua yang tak berani buka jendela.
Udara yang Tak Lagi Netral
Udara seharusnya gratis dan menyembuhkan. Tapi di Jakarta, udara sudah menjadi komoditas beracun yang datang tanpa suara. PM2.5 – partikel mikroskopis yang mampu masuk hingga ke paru-paru dan aliran darah – kini menghantui setiap tarikan napas kita.
Bayu (29), seorang pengemudi ojek online, berkata: “Kalau masker dilepas lima menit aja, tenggorokan langsung gatal. Tapi gimana, kami cari makan di jalan. Mau ngeluh ke siapa?”
Kita Hidup di Ruang Tanpa Ventilasi
Kota ini membangun mal, tol, dan gedung pencakar langit. Tapi lupa membangun Pohon-pohon ditebang, dan ruang hijau disisakan hanya untuk estetika. Transportasi umum memang membaik, tapi mobil dan motor pribadi masih mendominasi.
Udara buruk bukan cuma angka buruk. Ini krisis ekologi perkotaan. Dan lebih dari itu — ini adalah kegagalan kolektif tata ruang, transportasi, dan etika pembangunan.
Kota Ini Tak Butuh Pujian, Tapi Perubahan
Jakarta tak butuh sekadar promosi sebagai kota modern. Ia butuh kejujuran.Karena tak ada gunanya MRT, skyscraper, dan smart city kalau kita semua tercekik dalam diam.