Jakarta, 23 Juli 2025 – Dalam langkah bersejarah, Indonesia dan Amerika Serikat resmi menandatangani perjanjian perdagangan strategis yang tidak hanya memangkas tarif bea masuk, tetapi juga membuka jalur kerja sama jangka panjang di bidang mineral kritis, teknologi, dan industri penerbangan.
Kesepakatan ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik dan transisi global menuju ekonomi rendah karbon. Bagi Indonesia, ini bukan sekadar kerja sama dagang biasa—melainkan langkah penting dalam memperkuat posisinya sebagai mitra ekonomi kunci di kawasan Indo-Pasifik
Isi Kesepakatan: Akses, Investasi, dan Inovasi
Dalam perjanjian ini, Indonesia menyetujui pemangkasan tarif hingga 99% atas berbagai produk asal AS, termasuk suku cadang otomotif, komponen elektronik, dan hasil pertanian. Di sisi lain, AS akan menghapus hambatan non-tarif serta menurunkan tarif untuk produk-produk unggulan Indonesia dari 32% menjadi 19%.
Yang paling strategis, AS menyatakan komitmennya untuk meningkatkan investasi di sektor hilirisasi mineral seperti nikel dan tembaga—komoditas kunci dalam industri baterai kendaraan listrik. Selain itu, perusahaan seperti Boeing dikabarkan akan mendapat pesanan tambahan dari maskapai nasional Indonesia sebagai bagian dari penguatan kerja sama industri penerbangan
Langkah Strategis Indonesia: Lebih dari Sekadar Ekspor
Menteri Perdagangan RI menyebut kerja sama ini sebagai “fondasi baru” untuk lompatan industrialisasi. “Kita tidak hanya bicara ekspor-impor. Ini soal bagaimana Indonesia bisa mengakses teknologi, memperluas lapangan kerja, dan naik kelas sebagai pemain utama dalam rantai pasok global,” ujarnya.
Para analis melihat kesepakatan ini juga sebagai upaya Indonesia mengimbangi dominasi Tiongkok dalam investasi domestik. Dengan membangun kemitraan yang lebih seimbang dengan negara-negara Barat, Indonesia ingin menunjukkan bahwa kebijakannya tetap independen dan berorientasi pada kepentingan nasional.
Tantangan: Infrastruktur dan SDM Jadi Sorotan
Namun, tidak semua pihak menyambut optimisme ini tanpa catatan. Tantangan utama yang dihadapi Indonesia adalah kesiapan infrastruktur pendukung industri dan kemampuan SDM lokal dalam menyerap alih teknologi. Pemerintah diharapkan segera mempercepat pembangunan kawasan industri berbasis ekspor serta meningkatkan kualitas pendidikan vokasi.
“Kesepakatan ini adalah peluang besar, tapi harus diikuti dengan reformasi struktural. Jika tidak, kita hanya akan jadi pasar, bukan pemain,” ujar seorang pengamat ekonomi dari LPEM UI.