Jakarta, 31 Juli 2025 — Indonesia kembali kehilangan salah satu tokoh politiknya. Suryadharma Ali, mantan Menteri Agama Republik Indonesia, wafat pada Kamis pagi, pukul 04.18 WIB. Ia meninggal dalam usia 67 tahun dan akan dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga usai disemayamkan di Pondok Pesantren Miftahul’Ulum, Bekasi.
Namun kepergiannya bukan sekadar berita duka. Bagi sebagian orang, nama Suryadharma Ali tidak bisa dilepaskan dari catatan panjang kementerian yang pernah ia pimpin — dengan segala pujian maupun kontroversinya.
Dari Birokrat ke Politisi Puncak
Suryadharma Ali merupakan tokoh penting dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan sempat menjabat sebagai Ketua Umum partai tersebut. Karier politiknya menanjak pesat hingga dipercaya menjabat sebagai Menteri Agama dua periode, yakni pada Kabinet Indonesia Bersatu I dan II (2004–2014).
Di masa jabatannya, ia dikenal sebagai figur yang vokal dalam isu-isu keagamaan nasional, termasuk dalam kebijakan pengelolaan haji dan pendidikan keagamaan. Beberapa kalangan menilai ia berupaya membawa wajah baru dalam birokrasi keagamaan yang lebih dekat dengan umat.
Namun, masa baktinya juga diwarnai sorotan keras terkait transparansi dan integritas, terutama menjelang akhir jabatannya.
Bayang-Bayang Kasus dan Jalan Pengampunan
Tak bisa dimungkiri, Suryadharma Ali pernah menjadi bagian dari headline besar nasional ketika ia dijerat kasus korupsi dana haji oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 2014. Ia dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman penjara, namun dibebaskan lebih awal karena menerima grasi dari Presiden pada 2021.
Meski kasus tersebut sempat mengguncang citra kementerian, sebagian masyarakat dan tokoh agama tetap memberikan penghormatan atas kontribusinya di bidang pendidikan Islam dan pembinaan umat. Keputusan grasi pun membuka kembali ruang diskusi nasional soal pemisahan antara rekam jejak politik dan sisi kemanusiaan seorang tokoh.
Warisan yang Tersisa
Kepergian Suryadharma Ali menutup satu bab dalam sejarah Kementerian Agama. Warisan kebijakannya dalam hal distribusi guru agama, penguatan madrasah, hingga manajemen haji tetap menjadi perdebatan, baik dalam aspek positif maupun kritik.
Bagi generasi baru birokrat, kisah hidup Suryadharma bisa menjadi pelajaran tentang kompleksitas peran pejabat publik: bagaimana pengabdian dan kekuasaan bisa berjalan beriringan dengan sorotan tajam masyarakat.
Penutup: Akhir Sebuah Dinamika
Suryadharma Ali bukan tokoh yang lepas dari kontroversi, tapi juga bukan tanpa kontribusi. Ia mewakili wajah politik Indonesia era transisi—dari stabilitas pemerintahan ke tuntutan akuntabilitas publik yang semakin tinggi. Kepergiannya menutup lembaran hidup seorang pejabat yang pernah berada di puncak, jatuh, dan kemudian menyepi dalam diam.
Selamat jalan, Pak Suryadharma. Sejarah akan mencatat, dan publik akan menilai.