Canberra, 12 Agustus 2025 – Pemerintah Australia mengumumkan langkah bersejarah di panggung internasional: siap memberikan pengakuan resmi terhadap Negara Palestina pada Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang akan digelar September mendatang. Keputusan ini disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Anthony Albanese, dan menjadi bagian dari dorongan diplomatik menuju solusi dua negara.
Dorongan untuk Perdamaian
Albanese menegaskan bahwa kebijakan ini lahir dari keprihatinan mendalam terhadap situasi kemanusiaan di Gaza dan konflik yang tak kunjung mereda. Menurutnya, pengakuan terhadap Palestina dapat memberi sinyal kuat bagi komunitas internasional bahwa jalan damai harus tetap terbuka.
Pengakuan Bersyarat
Meski terbuka untuk mengakui kedaulatan Palestina, Australia memberi sejumlah syarat yang dianggap penting untuk keberlanjutan perdamaian. Syarat tersebut meliputi:
-
Palestina menjalankan demiliterisasi di wilayahnya.
-
Pemerintahan baru dibentuk tanpa keterlibatan Hamas.
-
Mengakui hak Israel untuk tetap eksis sebagai negara berdaulat.
-
Menyelenggarakan pemilu yang bebas dan transparan.
Reaksi Pro dan Kontra
Langkah ini memicu perdebatan di dalam negeri. Pihak pendukung memandang keputusan ini sebagai langkah moral yang tepat, sementara kalangan oposisi menganggapnya sebagai kebijakan yang dapat merenggangkan hubungan Australia dengan Israel. Pemerintah Israel sendiri melontarkan kritik keras, menyebut pengakuan tersebut sebagai “memalukan” di tengah situasi keamanan yang rapuh.
Posisi Australia di Mata Dunia
Dengan keputusan ini, Australia bergabung dengan gelombang negara-negara yang mulai mengakui Palestina secara resmi. Namun, para analis mengingatkan bahwa pengakuan simbolis saja tidak cukup—diperlukan langkah lanjutan untuk memastikan proses perdamaian benar-benar berjalan.
Momentum Politik Luar Negeri
Pemerintah Albanese menilai Sidang Umum PBB 2025 adalah waktu yang tepat untuk mengambil posisi tegas. “Dunia lelah menyaksikan penderitaan yang tak berkesudahan. Kita harus berani mendorong perubahan,” ujar Albanese dalam konferensi pers di Canberra.
Kesimpulan:
Langkah Australia ini bukan hanya pernyataan politik, tetapi juga ujian diplomasi di tengah konflik berkepanjangan Palestina–Israel. Keberhasilannya akan sangat bergantung pada kemampuan semua pihak memenuhi komitmen menuju perdamaian yang berkelanjutan.

