Jakarta – Pernyataan mengejutkan datang dari Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya, yang menyoroti tren penurunan skor IQ masyarakat Indonesia dalam hampir tiga dekade terakhir. Jika dibandingkan dengan era Orde Baru, rata-rata kemampuan kognitif generasi sekarang dinilai menurun.
Isu ini langsung mengundang perhatian luas. Bagi sebagian orang, kabar itu dianggap tamparan keras bagi sistem pendidikan yang selama ini sibuk mengejar kurikulum tanpa menyentuh akar persoalan. Namun, bagi yang lain, penurunan IQ ini bukan semata-mata tanda kebodohan, melainkan gejala dari pergeseran pola hidup dan cara berpikir generasi digital.
Pendidikan di Persimpangan Jalan
Sejak reformasi, kurikulum di Indonesia mengalami banyak perubahan. Mulai dari CBSA, KTSP, Kurikulum 2013, hingga Kurikulum Merdeka, semuanya membawa misi berbeda. Namun, seringnya gonta-ganti sistem membuat murid dan guru sulit beradaptasi. Alih-alih mendalami pengetahuan, siswa justru terjebak dalam budaya “kejar nilai”.
Tak jarang, pelajar lebih terampil menghafal jawaban ujian daripada mengasah logika berpikir. Hal inilah yang diduga ikut menurunkan kualitas intelektual jangka panjang.
Era Digital: Pintar di Jempol, Lemah di Logika?
Generasi sekarang hidup di tengah arus informasi tak terbatas. Semua jawaban tersedia hanya dengan satu sentuhan layar. Fenomena ini menciptakan paradoks: anak-anak muda mahir menggunakan teknologi, tetapi kadang kesulitan berpikir kritis tanpa bantuan mesin pencari.
Banyak pakar menilai, IQ tradisional yang mengukur kemampuan logika-matematis tidak lagi cukup mencerminkan kecerdasan manusia modern. Ada aspek lain seperti kreativitas, kecerdasan emosional, dan adaptasi teknologi yang justru lebih menentukan kesuksesan seseorang.
Peringatan atau Momentum Perubahan?
Pernyataan DPR soal penurunan IQ mestinya menjadi alarm serius bagi pemerintah. Apalagi di tengah upaya Indonesia bersaing dalam ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge economy). Jika kualitas sumber daya manusia melemah, mimpi Indonesia Emas 2045 bisa terancam.
Namun di sisi lain, momentum ini bisa menjadi kesempatan untuk mengubah paradigma pendidikan. Dari sekadar mengejar angka dan ranking, menuju sistem yang menumbuhkan nalar kritis, karakter, dan kreativitas.
Penutup
Apakah benar generasi hari ini lebih “bodoh” dibanding era Orde Baru? Atau sekadar berbeda cara mengasah otak karena teknologi sudah mengambil alih sebagian fungsi berpikir? Jawabannya masih bisa diperdebatkan. Yang jelas, kabar soal penurunan IQ ini seharusnya menjadi cambuk: bangsa besar tidak boleh puas hanya dengan label “bonus demografi”, tapi harus berinvestasi serius pada kualitas manusia.