Jakarta – Ribuan tentara dari berbagai negara mulai memadati sejumlah titik strategis di Indonesia sejak awal pekan ini. Mereka hadir bukan untuk misi tempur, melainkan mengikuti Super Garuda Shield 2025, latihan militer berskala besar yang digelar rutin tiap tahun.
Ajang ini berlangsung pada 25 Agustus hingga 3 September, melibatkan sekitar 6.500 personel dari 13 negara, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Australia, Korea Selatan, hingga Inggris. Latihan terbagi di beberapa lokasi, mulai dari Jakarta hingga Sumatra.
Fokus pada Pertahanan Bersama
Tidak hanya sekadar manuver senjata, latihan tahun ini menekankan sinergi antarangkatan bersenjata dalam menghadapi ancaman bersama. Simulasi mencakup pertahanan udara,
Panglima TNI menyebut, keterlibatan luas negara sahabat menunjukkan posisi Indonesia yang semakin penting dalam menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik.
Konteks Geopolitik
Di tengah meningkatnya tensi global, terutama di Laut Cina Selatan, latihan ini mendapat sorotan dunia. Meski begitu, pemerintah Indonesia menegaskan bahwa agenda ini bukan untuk menentang negara tertentu, melainkan sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas pertahanan kolektif dan memperdalam kerja sama militer.
Dampak untuk Indonesia
Selain aspek militer, kegiatan ini juga berdampak sosial-ekonomi. Kehadiran ribuan prajurit asing memberi peluang interaksi budaya sekaligus mendongkrak aktivitas ekonomi lokal di daerah latihan.
“Latihan ini bukan hanya tentang perang, tapi juga tentang diplomasi,” ujar salah satu pengamat pertahanan.
Penutup
Super Garuda Shield 2025 menegaskan kembali peran Indonesia sebagai tuan rumah latihan militer multinasional yang punya nilai strategis tinggi. Dengan semangat kerja sama, latihan ini diharapkan mampu menciptakan rasa aman sekaligus menumbuhkan kepercayaan antarnegara di kawasan.