Washington D.C. — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Venezuela diperkirakan tidak akan menyelenggarakan pemilihan umum dalam kurun waktu 30 hari ke depan. Pernyataan tersebut disampaikan Trump di tengah meningkatnya perhatian internasional terhadap situasi politik dan demokrasi di negara Amerika Latin itu.
Menurut Trump, kondisi politik internal Venezuela dinilai belum memungkinkan untuk menggelar pemilu yang bebas dan transparan. Ia menyoroti ketidakstabilan pemerintahan serta lemahnya jaminan demokrasi sebagai faktor utama yang menghambat proses elektoral dalam waktu dekat.
Meski demikian, pernyataan Trump tersebut belum disertai dengan bukti atau konfirmasi resmi dari otoritas pemilu Venezuela. Pemerintah Venezuela sendiri belum mengeluarkan tanggapan langsung terkait klaim tersebut hingga berita ini diturunkan.
Sejumlah pengamat internasional menilai pernyataan Trump dapat memicu ketegangan diplomatik baru antara Amerika Serikat dan Venezuela. Hubungan kedua negara memang telah lama berada dalam kondisi tegang, terutama terkait isu legitimasi pemerintahan, sanksi ekonomi, serta pelaksanaan pemilu.
Di sisi lain, komunitas internasional terus mendorong Venezuela agar menyelenggarakan pemilu yang inklusif dan diawasi secara independen. Beberapa negara dan lembaga internasional menilai pemilu merupakan langkah penting untuk meredakan krisis politik berkepanjangan di negara tersebut.
Situasi ini diperkirakan akan terus berkembang, seiring meningkatnya tekanan politik global dan dinamika internal Venezuela yang masih belum stabil.

