Menteri Investasi Bahlil Lahadalia kembali mengingatkan pentingnya hilirisasi sumber daya alam (SDA) sebagai kunci keluar dari jebakan ekonomi berbasis bahan mentah. Dalam pandangannya, tanpa hilirisasi, Indonesia hanya akan menjadi “penonton” di negeri sendiri meski dikaruniai kekayaan alam melimpah.
“Kalau kita hanya ekspor bahan mentah, itu namanya kutukan sumber daya alam. Kaya di bumi, tapi miskin di dompet,” ujar Bahlil dalam pernyataannya terbaru.
Ia menegaskan bahwa hilirisasi bukan semata proyek ekonomi, tetapi juga strategi kedaulatan nasional. Menurutnya, negara lain sudah lama menikmati nilai tambah dari bahan mentah Indonesia, sementara masyarakat lokal belum merasakan dampak ekonominya secara signifikan.
Bahlil mencontohkan bagaimana kebijakan larangan ekspor bijih nikel telah membuka peluang besar bagi tumbuhnya industri baterai listrik di dalam negeri. “Dulu nikel kita cuma dijual mentah, sekarang kita bisa bangun pabrik yang serap ribuan tenaga kerja. Itu namanya kemajuan,” jelasnya.
Namun, ia juga mengakui bahwa proses hilirisasi bukan tanpa tantangan — mulai dari penolakan investor asing, keterbatasan teknologi, hingga persoalan lingkungan. Tapi Bahlil menegaskan bahwa arah kebijakan ini tidak akan mundur.
“Negara besar tidak lahir dari ekspor mentah. Kita harus berani olah kekayaan sendiri, meski butuh waktu,” tutupnya dengan nada optimistis.

