Sanur, Bali – Tragedi tenggelamnya kapal cepat Dolphin II pada 5 Agustus 2025 bukanlah insiden pertama dalam sejarah pariwisata laut Indonesia. Tiga nyawa melayang—dua turis asal China dan satu anak buah kapal lokal. Sementara publik menyoroti besarnya gelombang laut, suara-suara dari lapangan mengingatkan: bencana ini bukan hanya soal cuaca, tapi juga soal sistem.
Gelombang tinggi atau waspada yang rendah?
Menurut laporan resmi, Dolphin II dihantam gelombang 2–5 meter saat hendak bersandar di Pelabuhan Sanur. Namun pertanyaannya: Mengapa kapal tetap diizinkan berlayar dalam kondisi laut seburuk itu? Apakah ada peringatan dari otoritas pelabuhan? Apakah operator kapal memiliki standar untuk membatalkan perjalanan?
Di tengah meningkatnya jumlah wisatawan, banyak kapal cepat beroperasi seperti “angkot laut”, mengejar target penumpang tanpa perencanaan matang terhadap kondisi alam. Tragedi Dolphin II membuka lagi perdebatan lama: apakah kita terlalu permisif terhadap industri wisata laut demi pemasukan cepat?
Regulasi yang longgar, pengawasan yang samar
Data dari beberapa organisasi maritim menunjukkan bahwa banyak kapal wisata di Indonesia beroperasi dengan standar keselamatan yang minimum. Peralatan keselamatan seadanya, pelatihan kru yang kurang memadai, hingga ketidakteraturan inspeksi teknis kapal jadi masalah laten.
“Masalahnya bukan tidak tahu, tapi sudah lama dianggap biasa. Padahal laut bisa berubah dalam hitungan menit,” ungkap seorang penyelamat dari tim SAR Bali yang enggan disebut namanya.
Tanggung jawab siapa?
Kementerian Perhubungan menyatakan sedang menginvestigasi kecelakaan ini. Namun masyarakat menunggu lebih dari sekadar laporan. Diperlukan langkah nyata seperti:
-
Audit ulang seluruh armada kapal wisata di Bali dan daerah lain
-
Sertifikasi wajib bagi semua awak kapal wisata
-
Pemasangan sistem deteksi dini cuaca ekstrem di jalur wisata laut
Tanpa evaluasi sistemik, tragedi serupa hanya tinggal menunggu waktu.
Bali tetap indah, tapi perlu aman
Bali adalah magnet wisata dunia. Tapi di balik pasir putih dan terumbu karang, keamanan wisatawan juga harus jadi prioritas. Ketika kapal wisata menjadi pilihan utama menjelajah pulau-pulau eksotis, negara tak boleh menutup mata terhadap lubang-lubang dalam sistem transportasinya.
Penutup:
Tiga nyawa hilang di laut Bali minggu ini. Namun jangan biarkan tragedi ini karam begitu saja di balik berita-berita baru. Dolphin II adalah peringatan keras: sistem kita perlu diperbaiki sebelum laut kembali menelan korban.