Jakarta, 29 Juli 2025 — Tren investasi asing ke Indonesia mengalami kemunduran signifikan sepanjang kuartal kedua tahun ini. Data terbaru yang dirilis otoritas ekonomi menunjukkan bahwa investasi langsung asing (FDI) tercatat senilai Rp 202,2 triliun (sekitar USD 12,3 miliar), atau turun 6,95% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan ini menjadi yang terbesar sejak awal pandemi 2020, dan memunculkan kembali kekhawatiran mengenai ketahanan iklim investasi di Indonesia, terutama di tengah dinamika global yang tidak menentu.
Sektor Unggulan Masih Jadi Primadona
Meski terjadi penurunan, beberapa sektor strategis masih menunjukkan daya tarik kuat. Pertambangan, transportasi, layanan, serta telekomunikasi tetap menjadi magnet utama bagi modal asing.
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menjelaskan bahwa investasi yang masuk berhasil menyerap lebih dari 665.000 tenaga kerja baru sepanjang kuartal ini. Artinya, meskipun nilai investasi menurun, efek ekonomi riil tetap terasa.
Kinerja investasi tetap menciptakan dampak lapangan kerja yang cukup besar, terutama di daerah-daerah industri baru di Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara,” ujar pejabat BKPM.
Penyebab Penurunan: Global & Domestik
Penurunan ini bukan tanpa sebab. Secara global, investor menghadapi tekanan dari tingginya suku bunga internasional, perang dagang yang belum sepenuhnya reda, dan ketidakpastian ekonomi Tiongkok serta Eropa.
Di dalam negeri, pelaku pasar menyebut masalah birokrasi, inkonsistensi regulasi, serta perlambatan pembangunan infrastruktur Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai faktor penghambat.
Beberapa calon investor menunda keputusan sampai ada kepastian soal transisi pemerintahan dan kebijakan fiskal baru,” ungkap seorang analis senior pasar modal di Jakarta.
Target Tahunan Masih dalam Jangkauan
Meski kondisi kuartal kedua terbilang menantang, pemerintah tetap yakin bahwa target investasi tahun 2025 sebesar Rp 1.905,6 triliun dapat dicapai.
Hingga Juni 2025, total realisasi investasi (gabungan asing dan domestik) telah mencapai Rp 943 triliun, atau hampir 50% dari target. Untuk mempercepat capaian, pemerintah menyiapkan strategi promosi agresif di kawasan Timur Tengah, Eropa Timur, dan Asia Selatan
Arah Kebijakan: Lebih Proaktif
Menteri Investasi berencana meluncurkan paket kebijakan baru pada Agustus mendatang yang diklaim lebih ramah investor. Ini mencakup digitalisasi perizinan, pengurangan hambatan non-tarif, dan insentif fiskal untuk sektor berbasis ekspor.
“Kita tidak bisa menunggu investor datang, sekarang waktunya Indonesia jemput bola,” tegas Menteri dalam konferensi pers sore ini.
Penurunan FDI di kuartal II 2025 menjadi pengingat bahwa stabilitas ekonomi global dan kredibilitas domestik saling berkaitan erat. Indonesia masih punya daya saing, tapi perlu langkah yang lebih tegas dan proaktif agar tak kehilangan momentum pemulihan pasca-pandemi.
Total Investasi Q2 2025:
💸 FDI: Rp 202,2 T ↓ 6,95%
👥 Pekerjaan Tercipta: ± 665.764
🎯 Target Nasional 2025: Rp 1.905,6 T (50% tercapai per Juni)