Washington D.C. — Ketegangan politik di Amerika Serikat kembali menguat menjelang peringatan lima tahun peristiwa penyerbuan Gedung Capitol pada 6 Januari 2021. Momen ini kembali membuka luka lama sekaligus mempertegas polarisasi politik yang hingga kini belum sepenuhnya mereda.
Peringatan tersebut diwarnai dengan pengamanan ketat di sekitar Capitol Hill. Aparat keamanan meningkatkan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi potensi gangguan, seiring adanya kekhawatiran akan aksi unjuk rasa dari kelompok tertentu yang masih mempersoalkan hasil pemilu presiden beberapa tahun lalu.
Di sisi lain, peristiwa ini kembali menjadi bahan perdebatan tajam di Kongres. Partai Demokrat menilai tragedi 6 Januari sebagai ancaman serius terhadap demokrasi dan supremasi hukum, sementara sejumlah politisi Partai Republik menuding isu tersebut terus dipolitisasi untuk kepentingan elektoral.
Beberapa anggota parlemen menyerukan agar pemerintah federal memperkuat langkah-langkah perlindungan terhadap lembaga negara. Mereka menekankan pentingnya menjaga integritas demokrasi serta mencegah penyebaran disinformasi yang dinilai menjadi salah satu pemicu utama kerusuhan lima tahun silam.
Sementara itu, keluarga korban dan aparat keamanan yang bertugas saat kejadian menggelar acara penghormatan sederhana. Mereka mengenang momen kelam tersebut sekaligus mengingatkan publik akan dampak jangka panjang dari kekerasan politik terhadap stabilitas nasional.
Pengamat politik menilai, peringatan lima tahun serangan Capitol menjadi cermin bahwa perpecahan politik di Amerika Serikat masih sangat nyata. Isu ini diperkirakan akan terus memengaruhi dinamika politik nasional, terutama menjelang agenda politik besar yang akan datang.

