Riau, 22 Juli 2025 – Ketika pagi datang, kabut putih yang turun di Desa Pelalawan bukan embun, melainkan asap. Udara beraroma tajam, menggigit hidung. Untuk sebagian besar warga Riau, ini bukan lagi berita. Ini siklus tahunan yang membunuh pelan-pelan. Tapi tahun ini, semuanya terasa lebih sunyi – lebih berbahaya.
Pemerintah menetapkan status Siaga Darurat Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) untuk sebagian wilayah barat Indonesia. Riau kembali menjadi episentrum bencana ekologis yang tak kunjung selesai. Puluhan hektar lahan terbakar dalam waktu kurang dari seminggu. Dan lebih dari itu, asapnya mulai menyebar ke negara tetangga: Malaysia.
Bukan Sekadar Lahan, Tapi Ruang Hidup
Bagi Pak Manap (58), seorang petani karet di pinggiran Indragiri Hulu, ini bukan hanya tentang hutan yang terbakar. Ini tentang mata pencaharian yang lenyap, anak-anak yang batuk setiap malam, dan ladang yang menghitam seperti bara. “Dulu kami panen karet. Sekarang yang kami panen cuma debu,” ucapnya.
Ratusan titik api terpantau sejak awal Juli, meningkat drastis hanya dalam tiga hari terakhir. Ironisnya, penyebab utama bukanlah alam, tapi manusia. Pembukaan lahan lewat pembakaran masih menjadi praktik cepat, murah, dan… mematikan.
Asap Tak Kenal Batas Negara
Warga di Johor Bahru dan Melaka, Malaysia, mulai mengeluh soal penurunan kualitas udara sejak Senin pagi. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di beberapa titik menunjukkan level tidak sehat, padahal negara itu belum membakar apa-apa.
Isu ini mulai menyerempet ke diplomasi. Beberapa aktivis lingkungan menyebut Indonesia perlu meningkatkan transparansi data karhutla dan mempercepat respon mitigasi, terutama jika sudah berdampak lintas batas.
Karhutla = Gagal Tata Kelola + Akses yang Tidak Adil
Masalah karhutla bukan sekadar soal pembakaran. Ini juga soal ketimpangan struktur kepemilikan lahan, lemahnya kontrol terhadap perusahaan besar, dan minimnya partisipasi warga lokal dalam tata kelola hutan.
“Kalau petani kecil membakar satu hektar, langsung ditangkap. Tapi kalau korporasi punya lahan ribuan hektar yang terbakar, semuanya ‘belum cukup bukti’,” kata Rani, relawan lingkungan dari Pekanbaru.