Perjanjian nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia kembali menjadi sorotan dunia setelah masa berlaku kesepakatan pengendalian senjata strategis mendekati akhir. Situasi ini memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas keamanan global.
Selama bertahun-tahun, kedua negara mengandalkan perjanjian pengendalian senjata nuklir untuk membatasi jumlah hulu ledak dan sistem peluncur strategis. Salah satu perjanjian utama adalah New START, yang menjadi pilar terakhir dalam kerja sama pengendalian senjata antara Washington dan Moskow.
Namun, hubungan yang memburuk antara kedua negara dalam beberapa tahun terakhir membuat negosiasi perpanjangan atau penggantian perjanjian menjadi semakin sulit. Ketegangan geopolitik, konflik regional, dan perbedaan kepentingan strategis memperumit upaya diplomasi.
Para analis menilai berakhirnya perjanjian nuklir tanpa pengganti dapat memicu perlombaan senjata baru. Tanpa batasan resmi, kedua negara berpotensi meningkatkan jumlah persenjataan strategis, yang dikhawatirkan memicu instabilitas global dan meningkatkan risiko konflik.
Selain itu, berakhirnya kesepakatan ini juga berdampak pada sistem keamanan internasional yang selama ini bergantung pada transparansi dan mekanisme verifikasi bersama. Hilangnya mekanisme tersebut dinilai dapat mengurangi kepercayaan antara negara-negara besar.
Meski demikian, sejumlah pihak masih berharap jalur diplomasi tetap terbuka. Komunitas internasional mendorong Amerika Serikat dan Rusia untuk kembali ke meja perundingan guna menjaga stabilitas global dan mencegah eskalasi perlombaan senjata nuklir di masa depan.

