Jakarta, 28 Juli 2025 — Nilai tukar rupiah memasuki minggu terakhir bulan Juli dengan gerakan yang tidak biasa: tampak menguat di awal sesi, namun berpotensi melemah pada penutupan. Kondisi ini memunculkan ketidakpastian pasar dan mencerminkan pertarungan antara sentimen lokal dan tekanan eksternal.
Gerakan di Balik Angka
Hari ini, rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp 16.310 hingga Rp 16.360 per dolar AS. Meskipun data domestik menunjukkan perbaikan pada sektor neraca dagang dan aliran masuk investasi, faktor global tetap mendominasi arah pergerakan kurs.
“Secara teknikal rupiah terlihat mencoba bangkit, tapi ruang penguatan cenderung sempit karena ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed masih membayangi,” ujar seorang analis pasar uang dari Jakarta Futures Insight.
Ancaman Global: Dolar Kembali Perkasa
Penguatan indeks dolar AS yang mencapai level tertinggi dalam tiga minggu terakhir menjadi salah satu penyebab utama tekanan terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah. Sentimen ini diperkuat oleh rilis data inflasi AS dan komentar hawkish dari pejabat bank sentral Amerika.
Ketidakpastian geopolitik di Eropa Timur dan perlambatan ekonomi Tiongkok turut memicu pelarian modal ke aset safe haven, membuat tekanan terhadap mata uang Asia kian besar.
Sinyal dari Dalam Negeri: BI Menahan Diri
Bank Indonesia hingga saat ini tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 6,25%, dengan strategi menjaga stabilitas tanpa mengguncang pasar. Meski kebijakan ini mampu meredam volatilitas, banyak pihak menilai respons moneter BI masih terlalu “hati-hati”.
Investor asing pun bersikap wait and see, menanti kepastian dari reformasi fiskal pasca pemilu serta kejelasan arah kebijakan presiden dan wapres terpilih dalam 100 hari pertama pemerintahannya.
Apa yang Bisa Ditunggu?
Beberapa faktor yang akan memengaruhi rupiah dalam waktu dekat antara lain:
- Data PDB Kuartal II/2025 yang akan dirilis awal Agustus
- Hasil pertemuan FOMC (The Fed) yang dijadwalkan akhir pekan ini
- Rencana perjanjian dagang Indonesia dengan Uni Eropa dan Kanada
Rupiah hari ini berada di titik rawan, di mana optimisme lokal belum cukup kuat untuk menahan arus tekanan global. Dalam situasi seperti ini, penguatan bisa terjadi — namun seringkali hanya sesaat, seperti nafas pendek di antara hembusan angin dari luar negeri.