Jakarta – Hubungan dagang Indonesia dan Peru memasuki fase baru. Kedua negara resmi menandatangani Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA), Senin (11/8), di Istana Negara, Jakarta. Kesepakatan ini membuka peluang besar bagi perluasan pasar, baik di Asia Tenggara maupun Amerika Latin.
Melalui perjanjian ini, berbagai produk unggulan Indonesia seperti otomotif, biodiesel, alas kaki, dan produk perikanan akan mendapat akses lebih luas di pasar Peru. Sebaliknya, Indonesia akan lebih mudah mendapatkan komoditas andalan Peru, termasuk buah-buahan segar seperti blueberry dan alpukat, yang semakin diminati di pasar domestik.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kerja sama ini bukan sekadar soal perdagangan, tapi juga penguatan hubungan diplomatik lintas benua. “Dengan CEPA, kita membangun jembatan ekonomi yang akan menguntungkan rakyat kedua negara,” ujarnya.
Sementara itu, Presiden Peru, Dina Boluarte, menyebut Indonesia sebagai mitra strategis di kawasan Asia Pasifik. Ia optimistis bahwa penghapusan sebagian besar tarif dan hambatan non-tarif akan mempercepat pertumbuhan perdagangan dua arah.
Kementerian Perdagangan RI memperkirakan nilai perdagangan Indonesia–Peru yang saat ini berkisar USD 500 juta per tahun bisa meningkat signifikan dalam lima tahun ke depan. Selain itu, kerja sama ini juga diharapkan menjadi pintu masuk produk Indonesia ke pasar Amerika Latin lainnya.
Dengan penandatanganan ini, Indonesia kini tercatat telah memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan empat negara di kawasan Amerika Latin, sebuah langkah strategis dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah persaingan global.