Jakarta kembali dipenuhi gelombang massa. Sejak pagi tadi, ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Bersama Rakyat (Gemarak) bergerak menuju kawasan Senayan. Mereka membawa poster, toa, dan spanduk, menyuarakan keresahan atas kondisi politik dan ekonomi yang dianggap tak berpihak pada rakyat.
Di sisi lain, negara pun tak tinggal diam. Lebih dari seribu personel gabungan kepolisian diterjunkan mengelilingi kawasan DPR/MPR/DPD RI. Polisi memilih pendekatan persuasif, tanpa membawa senjata api, dengan harapan demonstrasi berlangsung damai. Barisan aparat tampak membentuk pagar betis di gerbang utama, menjaga jarak aman antara peserta aksi dengan gedung wakil rakyat.
Tuntutan Menggema
Meski tiap kelompok mahasiswa datang dengan gaya orasi berbeda, ada benang merah yang sama: dorongan agar kebijakan pemerintah lebih transparan, serta kritik terhadap kinerja parlemen. Mereka menilai suara rakyat kerap tenggelam di balik kepentingan elite politik.
Seorang mahasiswa yang ikut aksi menyampaikan, “Kami datang bukan untuk rusuh, tapi untuk didengar. Jangan sampai DPR hanya jadi simbol, tanpa benar-benar mewakili rakyat.”
Jakarta yang Terbagi Dua
Di balik suara toa dan sorakan massa, lalu lintas Jakarta merasakan dampak langsung. Sejumlah jalan menuju Senayan dialihkan, membuat kendaraan pribadi hingga angkutan umum mencari jalur alternatif. Bagi sebagian warga, aksi ini menambah kemacetan. Namun bagi lainnya, pemandangan mahasiswa turun ke jalan justru dianggap sebagai napas demokrasi yang masih hidup.
Antara Tegang dan Damai
Meski udara panas dan situasi memanas, sejauh ini belum terjadi bentrokan besar. Polisi menjaga sikap tenang, sementara mahasiswa tetap fokus berorasi. Sesekali, terdengar yel-yel lantang yang memecah suasana, namun masih dalam batas wajar.
Hingga berita ini ditulis, aksi masih berlangsung. Publik menanti, apakah suara mahasiswa kali ini benar-benar sampai ke telinga para legislator di balik pagar tinggi gedung parlemen, atau justru hanya bergaung di jalanan Jakarta.