Lumajang, 29 Juli 2025 — Pagi baru saja membuka mata saat Gunung Semeru kembali menunjukkan gelagat murkanya. Sekitar pukul 05.30 WIB, suara gemuruh halus membelah hening, disusul kolom abu kelabu yang perlahan membumbung tinggi ke langit. Erupsi ini bukan sekadar letusan biasa. Ia hadir sebagai pengingat sunyi bahwa Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa, tak pernah benar-benar tidur.
alam sepekan terakhir, tercatat delapan kali aktivitas letusan, namun pagi ini, warga di sekitar Besuk Kobokan, Curah Koboan, dan Sumber Wuluh mengaku mendengar suara dentuman yang “lebih dalam dan panjang.” Beberapa anak sekolah ditunda keberangkatannya. Lonceng desa dibunyikan. Masyarakat tahu: ini bukan hanya debu biasa.
Desa-Desa yang Tidak Pernah Benar-Benar Pulih“Sudah biasa,
tapi tetap saja kami waspada,” ujar Pak Suyatno, 61 tahun, warga dusun yang beberapa kali terdampak banjir lahar dingin. Rumahnya berdiri tak jauh dari jalur aliran lava. Ia bukan satu-satunya. Ratusan keluarga lain di lereng selatan dan tenggara Semeru, setiap kali gunung batuk, hidup dalam ketidakpastian. Mereka tetap tinggal, bukan karena berani—tetapi karena tak punya pilihan.
Pasca-letusan besar Desember 2021 dan 2022, beberapa hunian relokasi dibangun. Namun banyak warga kembali ke tanah asal, meski berisiko. “Sawah kami di sini, ternak juga di sini. Di tempat relokasi hanya ada dinding, tapi tidak ada kehidupan,” ungkap Bu Rini, seorang ibu tiga anak.
Status Waspada, Tapi Awas Jangan Lalai
Badan Geologi melalui PVMBG telah menetapkan status Level II (Waspada) bagi Gunung Semeru. Radius bahaya diperluas: warga dilarang beraktivitas dalam radius 8 kilometer di sektor tenggara kawah, terutama di sepanjang jalur aliran lahar Besuk Kobokan.
Selain itu, potensi awan panas guguran (APG) masih menjadi ancaman nyata. Material vulkanik sisa letusan lama yang mengendap di lereng berisiko longsor dan mengalir deras saat hujan turun, mencapai jarak hingga 13 km dari puncak. Maka peringatan pun ditegaskan kembali: jangan mendekat ke sempadan sungai lebih dari 500 meter.
Bukan Soal Gunung, Tapi Soal Kita
Kisah Gunung Semeru bukan hanya soal geologi. Ini soal bagaimana manusia menyikapi ancaman yang tak bisa dihapus, hanya bisa dikelola. Di sisi lain, ini juga refleksi bagaimana pembangunan, mitigasi, dan relokasi seringkali tak menyentuh akar kebutuhan warga.
Peringatan dan laporan resmi memang penting. Tapi selama tanah yang subur tetap ada di kaki gunung, dan perut keluarga tetap harus diisi, warga akan terus kembali. Erupsi bukan hanya menebar abu, tapi membuka luka—luka sosial yang tak selalu terlihat di peta seismik.
Penutup: Gunung yang Tak Pernah Sepenuhnya Tenang
Gunung Semeru bukan musuh. Ia hanya menjalani siklus alam yang tak bisa ditawar. Yang bisa dilakukan manusia hanyalah memahami ritmenya, menghormati batasnya, dan menyiapkan diri. Karena Semeru akan terus berbicara. Kadang pelan, kadang bergemuruh. Dan kita harus selalu siap mendengar.