“Dulu seratus ribu bisa bawa pulang satu kantong penuh, sekarang cuma setengah,” keluh Bu Ratna, ibu rumah tangga di pinggiran Jakarta yang kami temui di pasar pagi. Ia bukan satu-satunya yang mengeluh. Di tiap sudut pasar, dari tukang sayur sampai pedagang telur, satu kata yang mendominasi: “naik.”
Dan yang naik bukan cuma harga. Beban pikiran rakyat pun ikut naik, pelan-pelan, tanpa banyak suara.
Harga Naik, Tapi Bukan Sekali
Sepanjang pertengahan 2025 ini, harga bahan pokok terus merambat naik. Tak melonjak tajam, tapi konsisten dan itu yang justru paling menyiksa. Seperti luka kecil yang tak kunjung sembuh.
-
Beras premium kini menyentuh Rp17.000/kg
-
Telur ayam tembus Rp34.000/kg
-
Cabai rawit sempat nyaris Rp100.000/kg di beberapa daerah
-
Minyak goreng curah kembali naik ke Rp16.500/liter
Banyak yang bilang, “itu biasa tiap tahun”. Tapi tahun ini beda: pendapatan stagnan, pengeluaran meledak.
Konsumen Irit, Pedagang Menjerit
“Yang beli makin banyak nanya harga, tapi makin dikit yang jadi beli,” kata Pak Joko, pedagang di pasar tradisional Bekasi. Ia bahkan mulai menjual beras dalam kemasan plastik kecil—500 gram, bukan lagi 1 kg, karena itu yang sanggup dibeli orang-orang sekarang.
Sementara itu, sebagian pedagang lain mulai mengeluhkan stok: bukan karena kelangkaan, tapi karena dagangan tak laku, basi di tempat.
Sunyi dari Statistik
Pemerintah menyebut inflasi masih terkendali. Pertumbuhan ekonomi disebut stabil di 5,1%. Tapi di lapangan, rasa susah itu tidak bisa diukur pakai persentase.
Yang terjadi hari ini bukan hanya soal harga, tapi soal psikologis rakyat:
-
Banyak yang mulai mengurangi makan lauk
-
Membatasi beli buah
-
Menunda belanja sabun atau kebutuhan lain yang “bukan primer”
Diam-diam, rakyat belajar bertahan dengan cara yang menyedihkan.
Siapa yang Bertindak?
Pertanyaannya sekarang: di mana peran negara?
Apakah operasi pasar cukup? Apakah subsidi sudah tepat sasaran?
Atau kita harus terima bahwa pasar bebas takkan peduli pada isi dapur rakyat kecil?
Ekonom bilang ini masa transisi. Tapi transisi seperti apa yang membuat rakyat harus mengorbankan makan dua kali sehari?
Penutup:
Harga boleh naik perlahan. Tapi kekhawatiran rakyat naik lebih cepat. Di balik senyum ibu-ibu di pasar, tersimpan strategi rumit menyiasati isi dompet yang makin kempis.
Dan bila negara tetap berdiam, bukan hanya daya beli yang runtuh tapi juga kepercayaan.