Penyakit jantung bawaan (PJB) masih menjadi persoalan serius dalam dunia kesehatan anak di Indonesia. Puluhan ribu anak tercatat hidup dengan kondisi ini, namun hingga kini hanya sebagian kecil yang mendapatkan penanganan medis secara memadai. Kesenjangan antara jumlah penderita dan layanan kesehatan yang tersedia menjadi tantangan besar bagi pemerintah dan tenaga medis.
PJB merupakan kelainan struktur jantung yang sudah ada sejak lahir. Kondisi ini dapat berdampak pada tumbuh kembang anak, mulai dari gangguan pernapasan, mudah lelah, hingga risiko kematian jika tidak ditangani dengan tepat. Sayangnya, banyak kasus baru terdeteksi saat kondisi anak sudah memburuk, terutama di daerah dengan akses kesehatan terbatas.
Keterbatasan fasilitas medis, minimnya tenaga dokter spesialis jantung anak, serta biaya pengobatan yang tinggi menjadi faktor utama rendahnya angka penanganan. Tidak semua rumah sakit memiliki sarana operasi jantung anak, sementara antrean tindakan medis kerap berlangsung lama. Hal ini membuat banyak keluarga harus menunggu atau bahkan menghentikan pengobatan karena kendala ekonomi.
Selain itu, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gejala awal penyakit jantung bawaan turut memperparah situasi. Pemeriksaan kesehatan ibu hamil dan deteksi dini pada bayi belum merata dilakukan, khususnya di wilayah terpencil. Padahal, diagnosis sejak dini sangat menentukan keberhasilan pengobatan.
Pemerintah dan berbagai organisasi kemanusiaan terus didorong untuk memperluas layanan kesehatan jantung anak, meningkatkan program skrining dini, serta memperkuat sistem rujukan nasional. Upaya kolaboratif antara negara, tenaga medis, dan masyarakat dinilai penting agar lebih banyak anak dengan penyakit jantung bawaan dapat memperoleh kesempatan hidup yang lebih baik.

